Photobucket ads iklan iklan iklan iklan

Selasa, 02 November 2010

Petruk Gunung Merapi

Bagi masyarakat yang tinggal di lereng Merapi, berbicara tentang gunung Merapi tak lepas dari segala mitos dan cerita misterinya. Mereka meyakini gunung yang berada di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta itu dikuasai oleh sosok gaib, Mbah Petruk.

Suswanto, lelaki berusia 43 tahun warga Dusun Sudimoro Desa Pucanganom Kecamatan Srumbung Magelang, mengabadikan awan berbentuk mirip sosok Petruk dalam cerita Pewayangan di atas gunung Merapi sebelum meletus dalam jepretan kamera. “Awalnya saya hanya iseng memotret,” kata dia, Senin (1/11) siang. Dalam salinan gambar yang ditunjukan Suswanto, awan mirip petruk itu berada tepat di atas puncak Merapi. Berhidung panjang dengan kuncir rambut di belakang kepala melengkung ke atas. Sosoknya menghadap ke arah selatan. “Ke arah Yogyakarta,” kata dia.

Gambar itu diambil pada Selasa (26/10) pagi atau sehari sebelum Merapi meletus pada petangnya. Dia menambahkan, gambar itu diambil dari depan rumahnya atau sekitar 13 kilometer dari puncak Merapi.

Menurut dia, sejumlah warga yang melihat hasilnya meyakiki itu adalah sosok Mbah Petruk, sang penunggu Merapi. Mereka menduga kehadirannya memperlihatkan diri sebagai pertanda bencana besar di Merapi.

Mbah Diwur (54), warga Desa Dusun Gaten Desa Ketunggeng Kecamatan Srumbung meyakini gambar awan itu adalah sebuah peringatan bagi warga sekitar Merapi. “Dia menghadap selatan, lihat saja sekarang yang para kan Jogja,” kata dia.

Dia membenarkan, adanya keyakinan sosok Mbah Petruk sebagai penguasa Merapi yang berkembang di masyarakat. “Dia bersemayam di dalam kawah Merapi,” kata dia.

Menurut Sugihartono (40), seorang warga Desa Pucanganom Kecamatan Srumbung, kepercayaan tentang adanya sosok mbah Petruk di gunung Merapi itu tak bisa lepas dari sejarah peralihan Hindu Majapahit dan Islam Demak.

Oleh masyarakat sekitar Merapi, kata dia, Mbah Petruk itu diyakini sebagai sosok Sabdo Palon Nolo Genggong, seorang penasehat raja Majapahit Brawijaya V. Di akhir kejayaan Majapahit karena masuknya pengaruh Islam di Demak, Brawijaya memilih berdiam di gunung Lawu yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Dia disia-sia,” katanya.

Karena sang Raja telah tersingkirkan maka Sabdo Palon pun memilih mengikuti jejak sang raja. Namun, dia memilih gunung Merapi sebagai tempat tinggalnya.Sebagai balasan terhadap lawan-lawan yang berkuasa, dia mengangkat sumpah. Kelak akan menagih janji penguasa negeri tentang amanahnya mensejahterakan rakyat.

Letusan Merapi, kata dia, bagi masyarakat yang masih memegang teguh legenda itu dipercaya sebagai peringatan bahwa penguasa negeri ini lalai menjalankan amanah rakyat. “Si Mbah marah dan menagih janji penguasa,” kata dia.
Photobucket

Read More......

Tiga Hari Bocah 13 Tahun Diperkosa Temannya

Tragis menimpa, sebut saja Bunga (13), warga Desa Ngrukem, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo. selama tiga hari berturut-turut, korban diperkosa oleh temannya sendiri di sebuah rumah kosong desa setempat.

Diduga perbuatan bejat yang dilakukan SP (14) yang masih duduk di bangku SMP, dikarenakan sering menonton film porno.Terbongkarnya perbuatan bejat yang dilakukan tersangka warga Desa Tugu, Kecamatan Mlarak, bermula dari kecurigaan orangtua Bunga. Pasalnya, selama tiga hari, mulai Senin (18/10/2010) - Rabu (20/10/2010) malam, korban tidak pulang ke rumah.

Setelah Bunga kembali ke rumah, kemudian kedua orangtuanya bertanya kenapa hingga tiga hari tidak pulang. Dengan polos, Bunga mengaku diajak SP untuk melayani nafsu bejat tersangka di sebuah rumah kosong di desa setempat.

Bak disambar petir di siang hari, mendengar pengakuan anaknya, orangtua korban tidak terima dan langsung melaporkan kejadian itu ke polisi.

Kasat Reskrim Polres Ponorogo AKP Nyoto, mengatakan, berdasarkan laporan orangtua korban, petugas menangkap SP di rumahnya tanpa perlawanan. Tersangka, kata AKP Nyoto, sudah melakukan perbuatan bejat pada korban selama tiga berturut-turut.

“Tersangka bakal kita jerat dengan pasal 287 KUHP dan 332 KUHP tentang pencabulan dan pemerkosaan. Kondisi korban dan kedua orangtuanya masih shock berat,” terangnya, Kamis (21/10/2010).

Di hadapan penyidik, tersangka, mengaku jika perbuatan yang dilakukan pada korban selama tiga hari berturut-turut, atas dasar suka sama suka.
Photobucket

Read More......

Jumat, 22 Oktober 2010

Kebo Gupak

Aja seneng cedhak-cedhak kebo gupak sebab mundhak kena blethoke. Unen-unen iki, menehi piwulang, yen tha sakjroning nglakoni urip bebrayan aja pisan-pisan nyedhaki utawa nglakoni barang kang ala. Contone kaya wujude ma-lima, yaiku main, mendhem, maling, madhat, lan madhon.
Unen-unen kuwi uga mengku karep yen tha milih kumpulan kanca utawa mitra kuwi ya sing nggenah. Tegese aja memitran lan kekancan karo pawongan kang nduwe sedya utawa pakarti ala.Merga lola-laline, sifat lan pakarti kang ala iku mau bakal bisa nular karo liyane. Tuladhane kaya patih Sengkuni, sakjroning lakon wayang purwa.
Patih saka praja Ngastina kuwi mau senenge tumbak cucukan lan ngadu domba antarane sedulur. Kurawa kang sakjane tresna karo Pandhawa kanthi pambujuke Sengkuni malih nduweni sifat ala lan mbalik mungsuhi Pandhawa.
Mergane Sengkuni nduwe sedya, bakal malesake lara atine kang rumangsa serik karo Prabu Pandhu, ya ramane para Pandhawa. Kurawa kang sejatine ora ngerti kenthang kimpule kahanan, nanging merga kerep kumpul karo Sengkuni dadhi melu-melu serik karo Prabu Pandhu lan para Pandhawa. Kahanan kuwi satemah mbabar perang sedhulur kang sinebut Baratayudha.
Mula lakone Sengkuni kuwi mau, minangka tuladha yen tha wong nduwe sifat lan tumindak ala mesthi seneng ajak-ajak kancane. Sebab dewekke rumangsa marem, yen tha bisa njlomprongake utawa nyilakakne kancane kanggo nuruti kekarepan pribadine.
Photobucket

Read More......

Senin, 11 Oktober 2010

JATI DIRI KYAI LURAH SEMAR

Semar

Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.
Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.

Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Sunan Kalijaga.

Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala.
Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jelata biasa, melaikan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa.

Asal-Usul dan Kelahiran

Terdapat beberapa versi tentang kelahiran atau asal-usul Semar. Namun semuanya menyebut tokoh ini sebagai penjelmaan dewa.
Dalam naskah Serat Kanda dikisahkan, penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Wenang. Karena Sanghyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyangan pun diwariskan kepada Sanghyang Wenang.

Dari Sanghyang Wenang kemudian diwariskan kepada putranya yeng bernama Batara Guru. Sanghyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama Semar.

Dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih.

Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar.

Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun. Jadi menurut versi ini, Semar adalah cucu dari Ismaya.

Dalam naskah Purwakanda dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putra bernama Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba. Suatu hari terdengar kabar bahwa takhta kahyangan akan diwariskan kepada Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Samba pun diculik dan disiksa hendak dibunuh.

Namun perbuatan tersebut diketahui oleh ayah mereka. Sanghyang Tunggal pun mengutuk ketiga putranya tersebut menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjadi Togog sedangkan Punggung menjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia sebagai pengasuh keturunan Samba, yang kemudian bergelar Batara Guru.

Sementara itu Manan mendapat pengampunan karena dirinya hanya ikut-ikutan saja. Manan kemudian bergelar Batara Narada dan diangkat sebagai penasihat Batara Guru.
Dalam naskah Purwacarita dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putra Sanghyang Rekatatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur yang bercahaya. Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal membanting telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih, dan kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelma menjadi laki-laki.

Yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga, yang berasal dari putih telur diberi nama Ismaya, sedangkan yang berasal dari kuningnya diberi nama Manikmaya. Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karena masing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun mengadakan perlombaan menelan gunung. Antaga berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan namun justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar.

Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit. Setelah melewati bebarpa hari seluruh bagian gunung pun berpindah ke dalam tubuh Ismaya, namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu Ismaya pun bertubuh bulat. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya itu. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebagai raja kahyangan, bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun turun ke dunia. Masing-masing memakai nama Togog dan Semar.

Silsilah dan Keluarga

Dalam pewayangan dikisahkan, Batara Ismaya sewaktu masih di kahyangan sempat dijodohkan dengan sepupunya yang bernama Dewi Senggani. Dari perkawinan itu lahir sepuluh orang anak, yaitu:

• Batara Wungkuham
• Batara Surya
• Batara Candra
• Batara Tamburu
• Batara Siwah
• Batara Kuwera
• Batara Yamadipati
• Batara Kamajaya
• Batara Mahyanti
• Batari Darmanastiti

Semar sebagai penjelmaan Ismaya mengabdi untuk pertama kali kepada Resi Manumanasa, leluhur para Pandawa. Pada suatu hari Semar diserang dua ekor harimau berwarna merah dan putih. Manumanasa memanah keduanya sehingga berubah ke wujud asli, yaitu sepasang bidadari bernama Kanistri dan Kaniraras.

Berkat pertolongan Manumanasa, kedua bidadari tersebut telah terbebas dari kutukan yang mereka jalani. Kanistri kemudian menjadi istri Semar, dan biasa dipanggil dengan sebutan Kanastren.
Sementara itu, Kaniraras menjadi istri Manumanasa, dan namanya diganti menjadi Retnawati, karena kakak perempuan Manumanasa juga bernama Kaniraras.

Pasangan Panakawan

Dalam pewayangan Jawa Tengah, Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun sesungguhnya ketiganya bukan anak kandung Semar. Gareng adalah putra seorang pendeta yang mengalami kutukan dan terbebas oleh Semar. Petruk adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sementara Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa.

Dalam pewayangan Sunda, urutan anak-anak Semar adalah Cepot, Dawala, dan Gareng. Sementara itu, dalam pewayangan Jawa Timuran, Semar hanya didampingi satu orang anak saja, bernama Bagong, yang juga memiliki seorang anak bernama Besut.

Bentuk Fisik

Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya.

Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan.

Keistimewaan Semar

Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua, dan yang satunya adalah Semar.

Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumanasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabharata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa. Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan.

Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka.

Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah - yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar - mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa.
Photobucket

Read More......

Piwulang Kautaman

Ajaran hidup cara Jawa memiliki 3 aras dasar utama, yakni aras sadar ber-Tuhan, aras kesadaran semesta dan aras keberadaban manusia.

Keberadaban manusia erat hubungannya dengan budi pekerti. Oleh sebab itu dalam falsafah hidup orang Jawa terdapat Piwulang Kautaman.

Piwulang Kautaman adalah ajaran keutamaan hidup. Secara alamiah manusia telah dibekali kemampuan untuk membedakan perbuatan benar dan salah serta perbuatan baik dan buruk. Disinilah peranan piwulang kautaman, yakni untuk " mempertajam " kemampuan itu.Dalam Piwulang Kautaman juga diajarkan pengenalan budi luhur dan budi asor dimana pilihan manusia hendaknya kepada budi luhur

Cukup banyak piwulang kautaman dalam ajaran hidup cara Jawa. Ada yang berupa tembang-tembang. Ada pula yang berupa sesanti atau unen-unen yang mengandung pengertian luas dan mendalam tentang makna budi luhur. Misalnya : tepa selira dan mulat sarira, mikul dhuwur mendhem jero.

Filosofi yang ada dibalik kalimat sesanti atau unen-unen tersebut tidak cukup sekedar dipahami dengan menterjemahkan makna kata-kata dalam kalimat tersebut.

Oleh karena itu sering terjadi ”salah mengerti” dari para pihak yang bukan Jawa. Juga oleh kebanyakan orang Jawa sendiri. Akibatnya ada anggapan bahwa sesanti dan unen-unen Jawa sebagai anti-logis atau dianggap bertentangan dengan logika umum.

Berikut beberapa contoh unen - unen yang di - " salah mengerti " kan oleh masyarakat...

Mulat sarira dan tepa selira diartikan bahwa Jawa sangat toleran dengan perbuatan KKN yang dilakukan kerabat dan golongannya.

MAKNA SEBENARNYA ADALAH


Makna dari mulat sarira dan tepa selira adalah untuk selalu mengoperasionalkan rasa pangrasa dalam bergaul dengan orang lain. Mulat sarira, mengajarkan untuk selalu instropeksi akan diri sendiri. Kesadaran untuk selalu instropeksi pada diri sendiri akan melahirkan watak tepa selira, berempati secara terus menerus kepada sesama umat manusia.

Lalu mikul dhuwur mendhem jero dimaknai untuk tidak mengadili orangtua dan pemimpin yang bersalah.

MAKNA SEBENARNYA ADALAH


Meskipun dimaksudkan untuk selalu menghormati orangtua dan pemimpin, namun tidak membutakan diri untuk menilai perbuatan orangtua dan pemimpin. Karena yang tua dan pemimpin juga memiliki kewajiban yang sama untuk selalu melakukan perbuatan yang benar.

Tapi banyak pula kita menemukan Piwulang Kautaman yang berupa nasehat atau pitutur yang jelas paparannya.

Piwulang Kautaman memiliki aras kuat pada kesadaran ber-Tuhan. Maka, ditabukan mencampuri “hak prerogatif Tuhan” dalam menentukan dan memastikan kejadian yang belum terjadi.

“Ing samubarang gawe aja sok wani mesthekake, awit akeh lelakon kang akeh banget sambekalane sing ora bisa dinuga tumibane. Jer kaya unine pepenget, “menawa manungsa iku pancen wajib ihtiyar, nanging pepesthene dumunung ing astane Pangeran Kang Maha Wikan”.

Photobucket

Read More......

Minggu, 10 Oktober 2010

Mantu Mbubak

Mbubak
Aneh juga ya, dalam satu keluarga kadang anaknya sudah pada berumur semua belum ada satupun yang menikah. (maksudnya bukan berniat nggak kawin,). Tapi begitu ada salah satu yang dapat jodoh, yang lain beruntun terus dapat jodoh juga. Jadinya nikahnya hampir bersamaan. Ada juga yang hari ini anak pertama dinikahkan, besok sepupunya, satu bulan lagi anak ke dua dan seterusnya. Memang benar sih kata orang jodoh ada di tangan Tuhan. Tapi kalau demikian yang jadi embahnya repot, masalahnya bagian penata sajen dia. Tau sendiri kan orang mantu sajennya seabrek. Kadang saya berfikir kalau kelak saya tua sudah jadi embah-embah masihkah saya berguna seperti mereka.Baik..... menuju ke topek utama kita sajen-sajen.

Dalam tradisi orang Ponorogo, kalau anak sulung atau anak bungsu yang dinikahkan, menurut adat harus dibubak. Kenapa? biar mungkur kata Ibu saya. Lalu apa itu mbubak? semacam upacara pelepasan dari keluarga, Waktunya biasanya malam hari setelah upacara akad nikah atau setelah walimahan. Sajen yang dipakai juga macem-macem:

Setelah saya hitung ada tujuh jenis sajen untuk mbubak, maksudnya tujuh kelompok, dan masing-masing kelompok, masih ada bagian-bagiannnya dong. Ribet, rumit, dan ngruil.

Langsung, sebut satu persatu;

1. Kloso pandan kecil (tikar dari daun pandan kira-kira ukuran 40 cmx40 cm) jumlah 4 buah.
2. Clupak, lampu dari bahan tembikar minyaknya, minyak kelapa. Diatasnya dikasih kapas yang dipelintir sebesar kari kelingking, ujung yang satu dicelupkan ke minyak dan ujung yang lain dibiarkan menjuntai untuk disulut api. Jumlahnya 4 buah juga.
3. 4 buah kendi diisi air putih.
4. Sebuah kuali beserta tutupnya (nama tutupnya kekep). Waktu itu saya penasaran banget apa isinya. Ternyata isinya bermacam-macam jajan pasar, jumlahnya sebanyak netu penganten yang dibubak. contoh lahirnya penganten Kamis pahing, berarti jumlah netunya 17. So jumlah jajan pasarnya juga 17 jenis.
5. Layah. Ada isinya juga, beras dan diatasnya ditaruh sebuah kambil gundil (kelapa tanpa sabut tapi masih ada batoknya)
6. Satu tangkap pisang raja diatasnya ditaruh sebungkus kinangan ( tembakau, dua lembar daun sirih, kapur sirih dibungkus daun pisang). Biasanya ditaruh di atas nampan atau baskom.
7. Yang terakhir ini tadinya saya lupa namanya, tapi teryata namanya cok bakal . Apa itu? empat buah takir (bagi yang sudah baca blog sebelumnya pasti tau barang apa itu) isinya bumbu-bumbu dapur seiris semua; kunyit, lengkuas, jahe, merica, kemiri, bawang merah/putih, cabe, pala dan sedikit garam. selain itu tidak ketinggalan juga kembang boreh, daun pandan diiris kecil-kecil dan paling atas ditaruh telur ayam kampung, masing-masing takir satu butir.

Sedangkan yang dikenduri;

1. Buceng beserta lauknya
2. Tumpeng beserta lauknya
3. Nasi gurih lauknya panggang ayam utuh.
4. Golong
5. Polo pendem dan ketupat


Semua sajen ditata memanjang di depan senthong tengah. Dan ternyata senthong tengah the meaning is bedroom in the center.

Lanjut ke upacaranya;

Setelah semua sajen tertata rapi mulai dari depan senthong tengah sampai ke depan pintu, lantas orang-orang yang mau kenduri duduk memanjang juga dengan posisi menghadap sajen. Sedangkan seluruh anggota keluarga penganten duduk berjajar membelakangi senthong tengah menghadap ke pintu. Misalnya rumahnya menghadap ke selatan, Maka mulai dari Bapak yang duduk paling barat menghadap ke selatan di depan senthong tengah, disusul Ibu,berada ditimurnya Bapak, lalu pengantin, (jika yang dibubak pengantin perempuan) maka ditimurnya lantas pengantin laki-laki begitu pula sebaliknya, lanjut lagi anak-anak yang lain dalam keluarga tersebut.

Kemudian orang yang dituakan (biasanya kiyai) memimpin doa dan yang lain mengamini, selesai berdoa, sang kiyai mengambil kuali yang isinya jajan pasar untuk diserahkan kepada kepala keluarga (baca; Bapak) sambil bertanya; "coba diangkat tutupnya, berat mana anak sendiri sama anak mantu"? Sang Bapak pura-pura nggak kuat mengangkat tutup kuali sambil menjawab, "sama sama berat". Pertanyaan yang sama diajukan kepada Ibu. Ibu juga menjawab serupa dengan jawaban bapak sambil berpura-pura nggak kuat mengangkat tutup kuali. Sang kiyai lalu membuka sendiri tutup kuali dan mengambil salah satu isinya, (biasanya yang diambil pisang) untuk diserahkan kepada Bapak, Bapak disuruh memakannya sedikit, sisanya diserahkan ke Ibu, Ibu memakannya sedikit dan sisanya diberikan ke anak yang jadi pengantin, pengantin memakannya sedikit dan sisanya diserahkan ke suami atau istrinya begitu seterusnya sampai ke anak yang terakhir yang ikut dalam upacara tersebut. Setelah itu para anggota keluarga boleh meninggalkan tempat, sedangkan sajen-sajen yang lain dikenduri oleh para undangan.

Photobucket

Read More......

Rabu, 06 Oktober 2010

Minta Pinjaman hanya diberi piagam penghargaan

Mukri, 47, perajin kendang di Dusun Sukamakmur, Desa Ngilo Ilo, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo seperti berjalan seorang diri selama 19 tahun menekuni profesinya. Tak ada pembinaan apalagi bantuan pendukung, namun dia berjuang agar tetap eksis di tengah moderninsasi.Sudarmawan
Ponorogo

Bayangkan jika reog tanpa kehadiran kendang. Akan terasa hambar. Sadar akan pentingnya profesinya membuat instrumen pendukung kesenian reog itu, maka Mukri tetap menggeluti usahanya. Jika ditelusuri lebih mendalam, usaha yang dirintis lelaki dua anak ini, juga turut menyokong dan membesarkan nama Ponorogo melalui hasil kerajinannya. Bahkan reog sekarang yang menasional dan mendunia.

Namun, tidak pernah mendapatkan sokongan dana bantuan dari Pemkab Ponorogo. Padahal dia ingin mendapatkan babntuan modal untuk meremajakan peralatan. Mukri pernah diundang Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Ponorogo. Akan tetapi, sesampainya di kantor kedinasan itu, dia tidak mendapatkan bantuan modal yang dibutuhkan melainkan hanya piagam penghargaan. dinas meminta Mukri memberikan piagam itu ke bank untuk pengajuan pinjaman modal.

“Meski saya tak begitu mengerti perbankan, saya yakin piagam itu, dapat dijadikan jaminan untuk pinjaman modal,” terang warga Lerang Kaki Gunung Bodro perbatasan Ponorogo – Pacitan ini.

Meski demikian, dia tak pernah putus asal. Dia tetap meyakini, kendang maupun bedug yang diproduksinya menggunakan peralatan sederhana seperti tatah, palu, linggis, dan gergaji manual itu, hasilnya lebih berkualitas dibandingkan dengan hasil produksi pabrikan. Sebulan dia mampu membuat 20 kendang.

“Saya berani adu kualitas dengan kendang hasil pabrikan. Jelas kualitasnya lebih baik hasil tangan saya,” katanya. Rahasianya adalah kecermatan dalam menggarap dan memilih bahan baku. Mukri selalu menggunakan kayu nangka untuk menjaga kualitas suaranya.

Sayangnya, Mukri juga buta soal pemasaran, sehingga dia mempercayakan produksinya kepada pengepul seperti pemilik toko aksesori reog, pemilik galeri peralatan reog yang ada di Ponorogo dan Surabaya. Kendang reog dan kendang bem dia mematok harga Rp 1,3 juta, kendang karawitan Rp 600.000, dan ketipung atau kendang kecil dihargai Rp 60.000 per unit.
Photobucket

Read More......

Boso Jowo dan Pewayangan

Dalam halaman ini kami mencuplik berbagai buku untuk memberikan manfaat bagi pengujung blog dan penulis sendiri atau mungkin siapa saja yang berminat belajar bahasa jawa bisa mencuplik pula di halaman ini.
Baiklah kita mulai dengan berbagai huruf Jawa yaitu:

1. HURUF JAWA

• Aksara jawa:
Ha Na Ca Ra Ka
Da Ta Sa Wa La
Pa Dha Ja Ya Nya
Ma Ga Ba Tha Nga … (suatu saat kami tampilkan huruf aslinya)
• Ada juga huruf jawa mulai 0 sampai 9
• huruf pasangan
• aksara muda
• aksara rekan
• aksara suara
• sandangan yang juga untuk menulis dengan sandangan contoh “ha bila disandangi bisa berbunyi : “hi, hu , ho dan he”.2. TIMBULNYA KEJADIAN DARI AKSARA JAWA.

Ceritanya dimulai ketika Prabu Ajisaka raja jawa abad ke-5 yang punya abdi/ pelayan yaitu Sembada dan Dora , pada suatu hari Prabu berkeinginan mengembara dengan didampingi Sembada . Dora tidak diajak dan di perintahkan untuk menunggu keris (pusaka) dirumah.
Prabu Ajisaka sebelum berangkat beliau berpesan pada Sembada dan Dora kalau keris itu tidak boleh diberikan kepada siapa saja kecuali dirinya (Prabu).
Kira-kira kurang lebih lima tahun mengembara Prabu menyuruh Sembada untuk mengambil keris itu. Maka setelah kedua abdi tersebut saling bertemu dan saling berpegang pesan raja terjadilah konflik , perkelahian dan akhirnya keduanya sama-sama meninggal dunia. Lupa akan pesan yang diucapkan kepada kedua abdi tersebut prabu bergegas pulang dan dan terkaget melihat kedua abdinya telah tiada. Dalam kisah itu maka Prabu Ajisaka membuat aksara jawa diatas.

3. ANGKA DENGAN BAHASA JAWA KUNO

• Siji/1 = Eka
• Loro/2 = Dwi
• Telu/3 = Tri
• Papat/4 = Catur
• Lima/5 = Panca
• Enem/6 = Sad
• Pitu/7 = Sapta
• Wolu/8 = Astha
• Songo/9 = Nawa
• Sepuluh/10 = Dasa
• Satus/100 = Sata
• Sewu/1000 = Sastra
• Sepuluh ewu/10000 = Saleksa
• Satus ewu/100000 = Sakethi
• Sayuta/1000000 = Sayuta

B. ARANING WIT-WITAN (Sebutan untuk nama pohon )

• wit jagung = tebon
• wit telo = lung
• wit aren = ruyung
• wit pari = damen
• wit jambe = pucang
• wit gedang = debok
• wit pohong = bonggol
• wit siwalan = bogor/tal
• wit kapuk = randhu
• wit kacang = rending
• wit pring tuwo = bangkitan
• wit pring enom = bung
• wit mlinjo = bego/so
• wit krambil / kelapa = glugu
• wit kolang-kaling = aren
• wit jati nom = janggelan

C. JENENGE SATRIYA LAN KASATRIYANE:

• arjuna , satria ana ing : madukara
• abimanyu, satria ana ing : plangkawati
• antaraja : Jangkar bumi
• anoman : Kendhalisada
• aswatama : sokalima
• dursasana : banjarjungut
• dresthajumna : cempalareja
• gatutkaca : pringgodani
• jayadrata : banakeling
• janaka : madukara
• kumbakarna : pengelebur gangsa
• lesmana mandrakumara : saroja binangun
• sengkuni : plasa jenar
• sadewa : sawojajar
• samba : paranggarudha
• setyaki : lesanpura
• bimasena : jodhipati
• werkudara : jodhipati

D. JENENGE RATU DAN NEGARANYA:

• Prabu Arjuna Sasrabahu ratu dikerajaan : Plangkawati
• Prabu Bomanarakasura ratu dikerajaan : Trajutrisna
• Prabu Baladewa : Mandura
• Prabu Basukarna : Ngawangga
• Prabu Basudewa : Mandura
• Prabu Dasarata : Ngayodya
• Prabu Dasamuka : Ngalengka
• Prabu Drestarata : Ngastina
• Prabu Drupada : Cempala
• Prabu Kresna : Dwarawati
• Prabu Maswapati : Wiratha
• Prabu Niwatakawaca : Iman Imantika
• Prabu Puntadewa : Ngamarta
• Prabu Parikesit : Ngastina
• Prabu Ramawijaya : Pancawati
• Prabu Suyudono : Ngastina
• Prabu Salya : Mandaraka
• Prabu Sugriwa : Guwa kiskenda
• Prabu Pandhu Dewanata : Ngastina

E. PENDITA DAN TEMPAT BERTAPANYA :

1. Begawan Mintara pertapane ing : Indrakila
2. Begawan Abiyasa pertapane ing : Saptarengga
3. Pandhita Durna pertapane ing : Sokalima
4. Resi Subali pertapane ing : Guwakiskenda
5. Resi Anoman pertapane ing : Kendhalisada
6. Resi Palasara pertapane ing : Ukir Ratawa
7. Resi Bisma pertapane ing : Talkandha.

F. NAMA LAIN TOKOH WAYANG.

• Abiyasa: anak dari Begawan Palasara dengan Dewi Durgandini, keturunan Dewa Betara Guru: merupakan Raja Negeri Astinapura, bergelar Prabu Kresna Dipayana.
• Abimanyu adalah putra Raden Arjuna dari ibu Wara Sembadra nama lainya: Angkawijaya, Jaya Murcita,
• Prabu Baladewa: nama lainya: Kakrasana, Wesi Jaladara, Basukiyana, Balarama, Kusumawilikita, Alayuda.
• Banowati : adalah putri dari Prabu Salya, putri yang cantik rupawan, saudaranya yang lain Erawati, Surtikanthi, Burisrawa, Rukmarata, Banowati diperistri oleh Prabu Suyudana dari Kerajaan Astina (Kurawa) setelah Prabu Suyudana gugur lalu diperistri Raden Arjuna , tetapi kemudian dibunuh Oleh Aswatama dan Kartamarma saat tidur.
• Arjuna: nama lain Permadi : mempunyai beberapa istri yaitu : Dewi Wara Sembadra, Wara Srikandi, Wara Rarasati, Banowati.
• Sang Hyang Bongkokan : anak pertama Ki Lurah Semar / Sang Hyang Ismaya Sang Hyang Bongkokan dikenal tugasnya menjaga guntur, guruh dan petir.
• Prabu Basukunti Raja Mandura mempunyai putra: Basudewa, Dewi Kunthi Talibrata, Prabu Rukma, Ugrasena, Basukunti teman dekat Prabu Abiyasa (Raja Astina)
Photobucket

Read More......

Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga

Ana kidung rumeksa ing wengi

teguh hayu luputa ing lara

luputa bilahine kabeh

jim setan datan purun

paneluhan tan ana wani

miwah panggawe ala

gunaning wong luput

geni atemahan tirta

maling adoh tan ana ngarah ing mami

guna duduk pan sirnaAda lagu yang mengalun di malam hari. Lagu yang menjadikan kuat, selamat, dan terbebas dari semua penyakit. Terbebas dari segala macam petaka. Jin dan setan pun tidak mau. Segala jenis sihir tidak ada yang berani, apalagi perbuatan jahat. Guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuri pun menjauh dariku. Segala bahaya akan sirna.



Potongan syair di atas adalah syair Jawa yang disebut macapat. Kategori macapat ini adalah Dhandhanggula. Syair ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga, salah satu anggota Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Syair ini diciptakan Sunan untuk dilantunkan di malam hari dan berdo’a kepada Allah SWT.

Sunan Kalijaga, seperti halnya Syekh Siti Jenar, memang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa melalui sisi budaya. Seperti diketahui banyak orang, Islam menemui banyak halangan untuk berkembang di tanah Jawa karena bertemu dengan kultur yang sudah sangat kuat, yaitu kultur Hindu/Buddha di bawah pengaruh kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, Sunan Kalijaga melakukan transmogrifikasi dengan memasukkan unsur-unsur Islam dalam budaya-budaya Jawa seperti memasukkannya ke dalam syair-syair macapat, memodifikasi wayang kulit, menciptakan lagu yang sangat terkenal, Lir-Ilir, dsb. Pendekatan budaya seperti ini yang memang tidak disebutkan secara literalistik linguistik dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist menyebabkan banyak pihak menganggap ajaran-ajaran Sunan Kalijaga adalah bid’ah.

Keterangan panjang lebar di atas kudapatkan dari buku Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga yang ditulis oleh Achmad Chodim dan diterbitkan oleh penerbit Serambi (penerbit yang juga mengeluarkan versi Indonesia dari The Da Vinci Code yang fenomenal itu). Buku ini tidak memaparkan sejarah Sunan Kalijaga, melainkan ajaran-ajaran Sunan Kalijaga secara komplit, mulai dari tembang rumeksa ing wengi, puasa mutih 40 hari 40 malam, selamatan, hakikat diri manusia, saudara empat, dll. Buku ini memaparkan ajaran-ajaran tersebut tanpa menjustifikasi bahwa ajaran-ajaran tersebut adalah bid’ah, bahkan cenderung melakukan pembelaan dengan alasan-alasan yang dikemukakan.

Cukup enak dibaca, karena meskipun materi yang dibahas adalah berat dan kontroversial, buku ini menggunakan pengantar bahasa yang super ringan, bahkan agak terlalu ringan sehingga aku pikir tidak layak sebuah buku menggunakan bahasa seringan ini. Buku ini kurasa cukup banyak memberikan sisi dan sudut lain tentang bagaimana memandang Islam untuk memberikan sudut pandang yang lebih luas. Overall, nilainya 7 dari skala 1-10.
Photobucket

Read More......

Pitutur Gawe Sedulur

Amenangi jaman edan
Yen ora edan ora keduman,
Yen melu edan
Urip malah ora karu-karuan

Sanepan ngisor iki gatekno temenan,
Cah enom padha ugal-ugalan,
Rambute diingu dowo-dowoan,
Kupingi di cacah diisi tindikan,
Irunge di bolong kaya sapi brahman,
Yen awan turu bengi braokan,
Karo nyekel gitar lan botol miras terus ndem-ndeman,
Akeh sing ora lego terus nggawe oplosan,
Ora wedi masiyo wis akeh korban,
Lambene ora mandheg olehe rokokan,
Kadhang akeh sing nggawe suntikan
Olehe tuku rego gram-graman
Ora seneng olahraga jenis bal-balan gawe njaga kesehatan
Lagak lageyane koyo majikan
Awake di gambare kebak tatoan
Lek dielingne paman
Kandhane “Man aku mono artise sinetron perkembangan anak jaman”
Ning yen kentekan duit terus nyamber memean.
Sing cah wedok ugo emoh ketinggalan,
Rambute dipotong model Pierce Brosnan,
Klambine cekak model You can see –an
Kadang nganti ketok lek bar kerokan,
Koyo ora ketoro lek nggawe pakaian
Susune ketok koyok gunungan,
Numpak sepedha motor sambi sms-an,
Nggawe kathok cendhek model kuthungan,
Lambene nggawe benges kandel memper iwak lou han
Saben dino gaweyane rasan-rasan, terkadang sinambi petan,
Pengin urip penak kaya juragan,
Ning emoh golek gaweyan,
Akeh sing terus dadi simpenan,
Urip sak omah tanpo ikatan,
Jare ribet ngurus surat neng kelurahan,
Opo maneh neng kecamatan
Jare nikah mono model ketinggalan jaman,
Malah sok ono sing dadi lesbian
yen ngene wis mesti akeh sing nglirwakne kewajiban

Semono uga sing dudu nom-noman,
Bubar kerja Sabendino jalan-jalan,
Neng mall utowo neng pertokoan
Lirak-lirik golek sasaran,
Golek sing gelem dijak bobok-bobok awan
Golekane sing isih prawan,
Ora rumangsa wajah pas-pasan,
Ora eling anak neng omah cacah welasan
Ora peduli tanggal tuwek utawa bar gajian,
Ugo ora peduli yen wis cedhak karo maesan
Nganti ora eling wayah jum’atan
Kadang direwangi nerak aturan
Dianggep cah wadon koyo panganan,
Iso di tuku koyo tuku jajan,
Ugo iso disuguhne gawe rekanan,
Wis ora eling karo pituture ustadz pas pengajian,
Sing penting oleh kenikmatan,
Sing dipikir mulyo lan mukti kadonyan,
Yen wis ngene akeh sing nglirwakne kewajiban,
Utamane kanggo wong sing duwe kerjaan,
Lan uga sing duwe jabatan,
Dupeh sugih dhuwit, sembarang karep kudu keturutan,
Yen wis ngene iso diarani rupo menungso ning kelakuan kewan,

Semono uga sing duwe pangkat,
Akeh sing lali kewajiban sholat,
Ning mesti wis nate ngucap syahadat,
Apa maneh nglakoni tirakat,
Intine lali karo Gusti kang akaryo jagat,
Budhal senin mulih jum’at,
Kadhang akeh sing nganti dino akad,
Ngakune neng kantor akeh rapat,
Ning nyatane digawe ngumbar syahwat,
Nganti duite kantor akeh sing disunat,
Digawe sobo neng panti pijat,
Jare kesel melayani masyarakat,
Padahal kesel olehe laku bejat,
Sing di umbar lungo neng pijat aurat,
Ora peduli siksa akhirat,
Ora eling anak wis papat,
Sing penting nuruti nkmat lan iso muncrat

Semono uga gawe wong wadon,
Rumangsa duwe daya tarik kaya madu tawon,
Ora rumangsa yen awake lemu ginuk-ginuk kaya babon
Turut mall ngangge klambi tipis ben kabeh katon
Akeh sing wis ora gelem sobo pawon,
Ora rumangsa kudu ngerti perasa merk Miwon,
Yen mlaku neng mall rumangsa ora ana sing wani takon,
Kadang yen ana sing nglirik terus gelem dijak kelon
Ana sing pengin cepet sugih terus dadi balon
Jarene urusan sex di anggep koyo dolanan dakon,
Angger duwe dhuwit iso kelakon (kelon),
Ketemu kanca lanang langsung lungguh pangkon,
Terkadang di tersune nganti rempon,
Ora wedi karo dzat sing ora katon,
Ora eling yen wancine mujur ngalor madhep ngulon,
Di bungkus kafan ditaleni ngisor dhuwur dadi wedhon.

Iki tulisan ojo dianggep temenan,
Dianggep ae guyone cah edan,
Wong gaweyanku saben dino mik cangkrukan,
moco koran karo fesbukan,
Wong aku ora nate mangan sekolahan,
Ugo ora nate moco Al’Quran,
Ora nate ngrungoke wong kataman,
Ora nate nekani pengajian
Iki tulisan sadermo parikan,
Iki parikan naliko aku lagi eling Gusti Pangeran,
Ning ora dadi apa yen maca iki konco-konco terus ngguyu cekikikan,

Wis semene dulur,
Iki dudu pitutur,
Iki mono tulisan naliko nglindur,
Kedadeyan wis mataun-taun kepungkur
Ojo ditiru yen ora kepingin ajur
Muga-muga kabeh eling yen ora ngerti kontrak umur
Sepisan maneh iki dudu pitutur,
Ora pantes aku ngatur,
Iki tulisan amung ngawur,
Ora kok mergo kepingin misuwur,
Ugo ora mergo ilmuku wis dhuwur,
Iki tulisan merga aku ora nate tafakur,
Iki sakjane pas aku lagi mendem susur.

Suwun
Photobucket

Read More......

Selasa, 05 Oktober 2010

0rang Tertua Di Ponorogo

Petugas sensus penduduk kembali menemukan orang dengan usia di atas satu abad.Dua perempuan warga Ponorogo diduga berusia 115 tahun dan 105 tahun. Mereka bakal menjadi warga tertua di Kabupaten Ponorogo.

Kedua perempuan itu, masih tampak sehat dan bugar. Hal itu, kemungkinan disebabkan keduanya selalu menghindari makanan daging dan gemar makan sayuran. Selain itu, keduanya juga suka makan sirih.

Kedua perempuan itu adalah Misirah, 115, warga RT 02/ RW 03, Dusun Ngedalon, Desa Ngrukem, Kecamatan Mlarak, dan Marsumi, 105, warga RT 02/RW 01, Dusun Kutu, Desa Kutu Kulon, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo.

Misirah, masih aktif melayani pijat bayi dan orang dewasa di rumahnya. Selama ini, dia tak memiliki keluhan apa pun. Kakinya masih tegar berjalan, bicaranya lancar, dan penglihatannya juga jelas. Hanya saja, pendengarannya mulai kurang jelas.

Marsumi, perempuan tertua kedua di Kabupaten Ponorogo mengaku masih bisa berbicara dan mendengar. Selain itu, dia juga suka mengerjakan pekerjaaan rumah tangga pada umumnya. Hanya saja, dia tak dapat berjalan lancar karena kaki dan persendiannya terasa kaku semuanya. Marsumi memiliki 11 anak. Namun, semua sudah meninggal dunia. Sekarang dia hanya tinggal bersama anak menantunya dan 5 cucu dan 2 cicit.
Photobucket

Read More......

Minggu, 03 Oktober 2010

Tewas Gantung Diri di Kuburan

Seorang kakek di Ponorogo, Jawa Timur, ditemukan tewas dengan leher terjerat kain sarung di pemakaman. Hingga kini, polisi masih menyelidiki tewasnya korban.

Keheningan warga Desa Ngrukem, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, minggu pagi mendadak gempar.

Soirin, kakek berumur 70 tahun, warga setempat, ditemukan tewas mengenaskan, dengan leher terjerat kain sarung di sebuah rumah-rumahan perkuburan desa setempat.

Warga yang tak berani menurunkan korban, melapor ke polisi. Mendapat laporan, sejumlah polisi ke lokasi untuk mengidentifikasi dan memintai keterangan sejumlah warga.

Dari hasil pemeriksaan sejumlah saksi, mayat korban pertama kali ditemukan oleh warga yang hendak ke pasar. Mereka kaget, ketika melintas di perkuburan, melihat sesosok mayat tergantung di salah satu rumah-rumahan perkuburan.

Hingga kini, polisi masih terus melakukan penyelidikan atas kematian korban. Namun dari dugaan sementara, korban nekad mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, karena putus asa, penyakitnya tak kunjung sembuh.

Photobucket

Read More......

Jumat, 01 Oktober 2010

Mlarak Melek Teknologi

Pernah denger dari seorang kawan kalau sekarang ini sudah jaman digital, bukan cuma jam tangan saja, jam dinding dan berbagai alat elektronik sudah digital semua. Nah misakne buanget ketika aku, kamu dan mereka yang masih belum digital. kecil katanya adalah “jangan menjadi jam analog dijaman digital” itu kata seorang blogger sebelah.
Mlarak kecamatan Online

Mlarak kecamatan Online

Nah pas saya main hotspot dikecamatan mlarak saya menemukan spanduk besar yang cukup jelas terlihat yang isinya “Pelatihan Internet / Intranet” Wah ternyata #Mlarak yang katanya kecamatan ndeso lebih peka terhadap teknologi ya. Selain salah satu kecamatan yang menyediakan wifi gratis untuk masyarakatnya ternyata keterampilan petugas kecamatan juga diperhatikan. Mulai dari pengerjaan yang menggunakan media komputer dan berbagai macam alat digital. Bukan cuma belajar interrnet saja, ternyata perangkat desa se kecamatan mlarak juga diajari Office 2007 dan Corel Draw. Worship Suatu terobosan yang sangat bisa ditiru kecamatan yang dianggap ngota (baca: kota)

Photobucket

Read More......