Aneh juga ya, dalam satu keluarga kadang anaknya sudah pada berumur semua belum ada satupun yang menikah. (maksudnya bukan berniat nggak kawin,). Tapi begitu ada salah satu yang dapat jodoh, yang lain beruntun terus dapat jodoh juga. Jadinya nikahnya hampir bersamaan. Ada juga yang hari ini anak pertama dinikahkan, besok sepupunya, satu bulan lagi anak ke dua dan seterusnya. Memang benar sih kata orang jodoh ada di tangan Tuhan. Tapi kalau demikian yang jadi embahnya repot, masalahnya bagian penata sajen dia. Tau sendiri kan orang mantu sajennya seabrek. Kadang saya berfikir kalau kelak saya tua sudah jadi embah-embah masihkah saya berguna seperti mereka.Baik..... menuju ke topek utama kita sajen-sajen.
Dalam tradisi orang Ponorogo, kalau anak sulung atau anak bungsu yang dinikahkan, menurut adat harus dibubak. Kenapa? biar mungkur kata Ibu saya. Lalu apa itu mbubak? semacam upacara pelepasan dari keluarga, Waktunya biasanya malam hari setelah upacara akad nikah atau setelah walimahan. Sajen yang dipakai juga macem-macem:
Setelah saya hitung ada tujuh jenis sajen untuk mbubak, maksudnya tujuh kelompok, dan masing-masing kelompok, masih ada bagian-bagiannnya dong. Ribet, rumit, dan ngruil.
Langsung, sebut satu persatu;
1. Kloso pandan kecil (tikar dari daun pandan kira-kira ukuran 40 cmx40 cm) jumlah 4 buah.
2. Clupak, lampu dari bahan tembikar minyaknya, minyak kelapa. Diatasnya dikasih kapas yang dipelintir sebesar kari kelingking, ujung yang satu dicelupkan ke minyak dan ujung yang lain dibiarkan menjuntai untuk disulut api. Jumlahnya 4 buah juga.
3. 4 buah kendi diisi air putih.
4. Sebuah kuali beserta tutupnya (nama tutupnya kekep). Waktu itu saya penasaran banget apa isinya. Ternyata isinya bermacam-macam jajan pasar, jumlahnya sebanyak netu penganten yang dibubak. contoh lahirnya penganten Kamis pahing, berarti jumlah netunya 17. So jumlah jajan pasarnya juga 17 jenis.
5. Layah. Ada isinya juga, beras dan diatasnya ditaruh sebuah kambil gundil (kelapa tanpa sabut tapi masih ada batoknya)
6. Satu tangkap pisang raja diatasnya ditaruh sebungkus kinangan ( tembakau, dua lembar daun sirih, kapur sirih dibungkus daun pisang). Biasanya ditaruh di atas nampan atau baskom.
7. Yang terakhir ini tadinya saya lupa namanya, tapi teryata namanya cok bakal . Apa itu? empat buah takir (bagi yang sudah baca blog sebelumnya pasti tau barang apa itu) isinya bumbu-bumbu dapur seiris semua; kunyit, lengkuas, jahe, merica, kemiri, bawang merah/putih, cabe, pala dan sedikit garam. selain itu tidak ketinggalan juga kembang boreh, daun pandan diiris kecil-kecil dan paling atas ditaruh telur ayam kampung, masing-masing takir satu butir.
Sedangkan yang dikenduri;
1. Buceng beserta lauknya
2. Tumpeng beserta lauknya
3. Nasi gurih lauknya panggang ayam utuh.
4. Golong
5. Polo pendem dan ketupat
Semua sajen ditata memanjang di depan senthong tengah. Dan ternyata senthong tengah the meaning is bedroom in the center.
Lanjut ke upacaranya;
Setelah semua sajen tertata rapi mulai dari depan senthong tengah sampai ke depan pintu, lantas orang-orang yang mau kenduri duduk memanjang juga dengan posisi menghadap sajen. Sedangkan seluruh anggota keluarga penganten duduk berjajar membelakangi senthong tengah menghadap ke pintu. Misalnya rumahnya menghadap ke selatan, Maka mulai dari Bapak yang duduk paling barat menghadap ke selatan di depan senthong tengah, disusul Ibu,berada ditimurnya Bapak, lalu pengantin, (jika yang dibubak pengantin perempuan) maka ditimurnya lantas pengantin laki-laki begitu pula sebaliknya, lanjut lagi anak-anak yang lain dalam keluarga tersebut.
Kemudian orang yang dituakan (biasanya kiyai) memimpin doa dan yang lain mengamini, selesai berdoa, sang kiyai mengambil kuali yang isinya jajan pasar untuk diserahkan kepada kepala keluarga (baca; Bapak) sambil bertanya; "coba diangkat tutupnya, berat mana anak sendiri sama anak mantu"? Sang Bapak pura-pura nggak kuat mengangkat tutup kuali sambil menjawab, "sama sama berat". Pertanyaan yang sama diajukan kepada Ibu. Ibu juga menjawab serupa dengan jawaban bapak sambil berpura-pura nggak kuat mengangkat tutup kuali. Sang kiyai lalu membuka sendiri tutup kuali dan mengambil salah satu isinya, (biasanya yang diambil pisang) untuk diserahkan kepada Bapak, Bapak disuruh memakannya sedikit, sisanya diserahkan ke Ibu, Ibu memakannya sedikit dan sisanya diberikan ke anak yang jadi pengantin, pengantin memakannya sedikit dan sisanya diserahkan ke suami atau istrinya begitu seterusnya sampai ke anak yang terakhir yang ikut dalam upacara tersebut. Setelah itu para anggota keluarga boleh meninggalkan tempat, sedangkan sajen-sajen yang lain dikenduri oleh para undangan.




Mantu Mbubak







0 komentar:
Posting Komentar